Monday, March 19, 2018

PENYEBAB, GEJALA, DAN CARA MENCEGAH USUS BUNTU (APENDISITIS)



Penyakit usus buntu yaitu pembengkakan atau peradangan apendiks atau usus buntu. Sedangkan usus buntu yaitu organ berbentuk kantong kecil serta tipis berukuran lima hingga sepuluh centimeter yang terhubung pada usus besar. Sampai saat ini, alasan kenapa kita mempunyai usus buntu masih belum diketahui. Pengangkatan penyakit ini pun tidak mempengaruhi kondisi kesehatan. Akan tetapi penyakit usus buntu atau apendisitis berpotensi bisa memicu komplikasi yang serius. Penyakit usus buntu (apendisitis) adalah penyakit umum yang dapat menyerang siapa pun. Namun kalangan muda yang berumur sepuluh sampai tiga puluh tahun merupakan kelompok orang yang paling sering mengalami kondisi seperti ini.
Komplikasi akibat pecahnya usus buntu
Penyakit usus buntu atau apendisitis yang tidak diobati beresiko untuk pecah serta bisa berakibat fatal. Segera pergi ke dokter atau rumah sakit apabila sakit perut anda mendadak semakin parah serta menyebar ke seluruh perut. Hal ini mengindikasikan kemungkinan pecahnya usus buntu yang bisa memicu beberapa komplikasi seperti berikut di bawah ini :
-          Abses, adalah kantong kumpulan nanah yang terasa sakit. Komplikasi ini muncul sebagai usaha alami tubuh untuk mengatasi infeksi akibat usus buntu yang pecah. Penanganannya dilakukan terkadang dengan antibiotik atau dengan dilakukan penyedotan nanah. Apabila ditemukan dalam operasi,  abses serta bagian di sekitarnya akan dibersihkan dengan hati-hati serta diberi antibiotik.
-          Peritonitis, komplikasi ini yaitu peradangan peritoneum, merupakan jaringan tipis yang melapisi dinding perut bagian dalam serta organ-organ di dalam rongga perut. Peradangan ini disebabkan oleh bakteri dari dalam usus buntu yang pecah. Gejala-gejalanya diantaranya muntah, demam, napas pendek serta terengah-engah, sakit perut yang parah serta terus menerus, daerah perut yang membengkak, dan detak jantung cepat. Dan biasanya ditangani operasi pengangkatan usus buntu dan dengan pemberian antibiotik.
Penyebab penyebab usus buntu (apendisitis)
 Penyebab usus buntu yang pasti sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Walaupun demikian, sebagaian besar apendisitis diperkirakan terjadi akibat tersumbatnya “pintu masuk” menuju usus buntu oleh :
-          Tinja
Kelenjar getah bening yang membengkak dalam dinding usus. Pembengkakan ini umumnya berkembang sesudah terjadi infeksi saluran pernapasan atas. Penyumbatan tersebut akan mengakibatkan terjadinya pembengkakan serta inflamasi. Tekanan akibat pembengkakan akan dapat memicu pecahnya usus buntu.
Gejala usus buntu (apendisitis)
Gejala utama usus buntu (apendisitis) yaitu sakit perut. Walaupun demikian, tidak semua jenis sakit perut akan berujung pada usus buntu. Sakit perut yang mengindikasikan usus buntu (apendisitis) biasanya bermula di perut bagian tengah. Awal-awalnya, rasa sakit itu akan datang dan pergi. Beberapa jam kemudian, rasa sakit akan berpindah ke perut bagian kanan bawah (tempat apendisitis berada) sebelum akhirnya bertambah parah serta terus menerus terasa sakit. Rasa sakit juga akan bertambah parah saat terjadi penekanan pada bagian perut tersebut. Begitu juga ketika anda berjalan ataupun ketika batuk. Beberapa gejala-gejala lainnya yang bisa menyertai sakit perut itu diantaranya sebagai berikut :
·         Tidak bisa buang gas.
·         Demam.
·         Kehilangan selera makan.
·         Diare atau konstipasi.
·         Perut kembung.
·         Muntah serta mual.
Apendisitis atau usus buntu juga sering dikira sebagai penyakit lain, misalnya konstipasi biasa, keracunan makanan, infeksi saluran kemih, dan sindrom iritasi usus yang parah. Perempuan muda juga sering mengira gejala apendisitis atau usus buntu sehubungan dengan kandungan, seperti nyeri haid atau kehamilan ektopik.
Cara mencegah penyakit apendisitis atau usus buntu
Terdapat beberapa cara yang mudah yang dapat dilakukan untuk pencegahan munculnya gejala apendisitis, diantaranya sebagai berikut :
§  Perbanyak mengkonsumsi air putih, air putih memang mempunyai banyak sekali khasiat untuk kesehatan, terkecuali untuk mencegah atau menyelesaikan berbagai penyakit berbahaya lainnya, dengan memperbanyak mengkonsumsi air putih sebanyak delapan gelas tiap hari dapat mencegah terjadinya radang usus buntu. Kenali gejala apendisitis sejak dini, cara lain untuk mencegah apendisitis yang selanjutnya adalah dengan memahami tiap-tiap gejala awalnya.
§  Jangan membiasakan menahan untuk buang air besar, apabila anda merasa ingin buang air besar, sebaiknya segerakan. Sebab hal ini bisa mengakibatkan terjadi radang pada usus buntu. Sekiranya dibendung akan menyebabkan feses menumpuk dan mengeras, sehingga dapat terjadi penyumbatan pada usus dan akhirnya dapat meningkatkan resiko terjadinya radang usus buntu.
§  Konsumsilah makanan tinggi serat, berdasarkan penelitian, menggambarkan bahwa kasus penyakit apendisitis sangat jarang terjadi pada orang yang mempunyai sistem pencernaan yang lancar serta baik. Dan yang menjadi salah satu penyebab terjadinya radang pada usus buntu adalah feses yang menumpuk. Sehingga menyebabkan penyumbatan.
§  Berikutnya adalah dengan menghindari menahan untuk membuang gas dari perut, sebab bisa mengakibatkan gangguan pada usus buntu.
Apabila anda merasa gejala awal seperti sakit pada perut bagian kanan bawah, dan kenyang atau perut sembab, segera pergi ke dokter untuk mendapatkan penanganan sejak dini. Sehingga dapat mengurangi resiko infeksi yang serius pada usus buntu.

Sekian artikel ini saya buat jika ada kekurangannya saya mohon maaf.

Friday, March 16, 2018

PENYEBAB, GEJALA, DAN CARA MENCEGAH TUBERKULOSIS (TBC)



Tuberkulosis (TB) yang juga disebut dengan singkatan TBC, merupakan jenis penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis. Jenis penyakit ini ditularkan dari pengidap tuberkulosis aktif yang batuk serta mengeluarkan titik-titik kecil air liur dan terinhalasi oleh orang sehat yang tidak mempunyai kekebalan tubuh terhadap penyakit ini. Tuberkulosis termasuk dalam sepuluh besar penyakit yang mangakibatkan kematian di dunia. Data WHO menunjukan bahwa pada tahun 2015, Indonesia termasuk dalam enam besar negara dengan kasus baru tuberkulosis terbanyak. 
Penyebab TBC
Tuberkulosis atau disebut juga TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Basil ini menyebar di udara melalui semburan titik-titik air liur dari batuk penderita TBC aktif. Walaupun demikian, penularan Tuberkulosis (TBC) tidaklah segampang penyebaran flu atau pilek karena umumnya memerlukan beberapa waktu. Semakin lama seseorang berinteraksi atau terpapar dengan pengidap Tuberkulosis (TBC), resiko penularan akan semakin tinggi. Misalnya, seseorang yang tinggal serumah dengan penderita Tuberkulosis (TBC) akan mempunyai resiko tinggi untuk tertular penyakit tersebut.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko untuk tertular Tuberkulosis (TBC) bagi kelompok orang tertentu, diantaranya sebagai berikut :
·         Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita kanker, diabetes, HIV, dan seseorang yang kekurangan Gizi.
·         Manula dan anak-anak.
·         Pengguna tembakau, misalnya dalam bentuk rokok. Hampir dua puluh persen kasus Tuberkulosis (TBC) dipicu oleh merokok.
·         Orang yang hidup atau tinggal di pemukiman padat serta kumuh.
·         Orang yang kecanduan minuman keras.
·         Pengguna obat-obatan terlarang.
·         Petugas medis yang sering berhubungan dengan penderita Tuberkulosis (TBC).
Gejala TBC
Tuberkulosis (TBC) mempunyai gejala-gejala klasik yang umumnya berupa diantaranya :
§  Dada yang terasa sakit ketika batuk atau bernapas.
§  Batuk yang mengeluarkan darah.
§  Batuk-batuk yang dapat menjadi batuk berdahak. Batuk seperti ini berlangsung selama dua puluh satu hari atau lebih.
§  Kelelahan.
§  Tidak nafsu makan.
§  Berkeringat secara berlebihan saat malam hari.
§  Demam serta menggigil.
§  Penurunan berat badan.
Segeralah pergi ke dokter apabila anda mengalami gejala-gejala tersebut di atas. Tuberkulosis (TBC) dapat disembuhkan apabila diobati secara tepat dan seksama.
Tidak semua basil Tuberkulosis (TBC) yang masuk ke tubuh langsung menyebabkan gejala TBC aktif. Ada juga kasus dimana basil Tuberkulosis (TBC) bersembunyi tanpa memicu gejala sampai suatu hari berubah aktif. Kondisi ini dikenal sebagai TBC laten. Selain tidak mengalami gejala, penderita TBC laten juga tidak menular. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia menderita TBC laten. Sementara Tuberkulosis (TBC) yang berkembang, merusak jaringan paru, serta menimbulkan gejala-gejala dalam beberapa minggu sesudah terinfeksi dikenal dengan istilah Tuberkulosis (TBC) aktif. Sangat penting agar Tuberkulosis (TBC) jenis ini diobati karena termasuk penyakit menular.
Pengobatan TBC
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang tergolong serius ini bisa disembuhkan serta jarang berakibat fatal apabila diobati dengan benar. Langkah pengobatan yang digunakan yaitu pemberian antibiotik yang harus dihabiskan oleh penderita Tuberkulosis (TBC) selama jangka waktu tertentu sesuai resep dokter. Jenis-jenis antibiotik yang digunakan umumnya yaitu pyrazinamide, rifampicin, ethambutol, serta isoniazid. Sama seperti semua obat-obat lainnya, antibiotik untuk Tuberkulosis (TBC) juga mempunyai efek samping, terutama ethambutol, rifampicin, dan isoniazid. Ethambutol bisa mempengaruhi kondisi penglihatan penderita Tuberkulosis (TBC). Sementara isoniazid berpotensi merusak saraf, dan rifampicin bisa menurunkan keefektifan alat kontrasepsi yang mengandung hormon. Sejumlah efek samping lainnya dari obat-obatan Tuberkulosis (TBC) meliputi penurunan nafsu makan, gatal-gatal pada kulit, ruam, muntah, mual, demam, urine yang berwarna gelap, dan sakit kuning. Masa penyembuhan Tuberkulosis (TBC) berbeda-beda pada setiap penderita serta tergantung pada kondisi kesehatan penderita dan tingkat keparahan Tuberkulosis (TBC) yang diidap. Kondisi penderita TBC umumnya akan mulai membaik serta TBC berhenti menular sesudah mengkonsumsi antibiotik selama dua minggu. Namun untuk memastikan kesembuhan total, penderita Tuberkulosis (TBC) harus menggunakan antibiotik yang diberikan dokter selama enam bulan. Jika penderita tidak meminum obat sesuai resep dokter atau berhenti meminumnya sebelum waktu yang dianjurkan, bakteri Tuberkulosis (TBC) dapat tidak hilang sepenuhnya walaupun penderita merasa kondisinya membaik. Infeksi Tuberkulosis (TBC) yang diderita juga berpotensi menjadi resistan terhadap antibiotik. Apabila hal ini terjadi, Tuberkulosis (TBC) akan menjadi lebih berbahaya serta sulit diobati sehingga masa penyembuhannya juga akan jauh lebih lama.
Pencegahan TBC
Upaya utama untuk pencegahan Tuberkulosis (TBC) yaitu dengan menerima imunisasi Bacillus Calmette Guerin (BCG). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib serta diberikan sebelum bayi berumur dua bulan. Cara lain yang dapat anda lakukan untuk mencegah Tuberkulosis (TBC) yaitu dengan senantiasa mengenakan masker ketika berada di tempat ramai, apabila berinteraksi dengan penderita Tuberkulosis (TBC), dan cucilah tangan secara teratur (khususnya para pekerja medis). Penderita Tuberkulosis (TBC) bisa menularkan penyakit ini apabila belum menjalani pengobatan dalam jangka waktu yang ditentukan oleh dokter. Jika anda menderita Tuberkulosis (TBC), upaya-upaya dibawah ini akan sangat bermanfaat guna mencegah penyebarannya pada keluarga serta orang-orang di sekitar anda, caranya sebagai berikut :
1.      Tidak meludah atau membuang dahak sembarangan.
2.      Tetaplah di rumah serta jangan tidur sekamar dengan orang lain sampai setidaknya beberapa minggu sesudah menjalani pengobatan.
3.      Tutupi mulut anda ketika batuk, tertawa, serta bersin. Anda juga dapat mengenakan masker. Jika anda menggunakan tisu, buanglah segera sesudah digunakan..
4.      Pastikan rumah anda mempunyai sirkulasi udara yang bagus, misalnya sering membuka jendela serta pintu supaya sinar matahari bisa masuk dan udara segar.



Sekian artikel ini saya bikin jika ada kekurangannya saya minta maaf.

Sunday, March 11, 2018

PENYEBAB, GEJALA, CARA MENGENDALIKAN DAN CARA MENCEGAH ASMA



Penyakit asma yaitu merupakan jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan serta penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas. Selain sulit bernapas, pengidap asma juga dapat mengalami gejala lain seperti batuk-batuk, mengi, serta nyeri dada. Asma dapat diidap oleh semua golongan usia, baik muda maupun tua. Untuk seseorang yang mempunyai penyakit asma, saluran pernapasannya lebih sensitif dibandingkan seseorang yang tidak mempunyai penyakit asma. Pada saat paru-paru teriritasi bulu binatang, debu, udara dingin, asap rokok, aktivitas fisik, infeksi virus, atau bahkan terpapar zat kimia, maka otot-otot saluran pernapasan pengidap asma akan menjadi kaku serta membuat saluran tersebut menyempit. Selain itu, akan terjadi peningkatan produksi dahak yang menjadikan semakin kesulitan bernapas.
Penyebab asma dan faktor-faktor yang bisa memicu kemunculan gejala asma
Untuk penyebab pasti penyakit asma sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Walaupun demikian, ada beberapa faktor yang bisa memicu kemunculan gejala penyakit asma, diantaranya sebagai berikut :
·         Paparan zat di udara, misalnya asap rokok, polusi udara, serta asap kimia.
·         Kondisi interior ruangan yang berjamur, berdebu, serta lembab.
·         Aktivitas fisik misalnya olahraga.
·         Infeksi saluran napas dan paru-paru yang umumnya menyerang saluran napas bagian atas seperti flu.
·         Stress.
·         Alergi makanan misalnya kacang-kacangan.
·         Alergen (tungau debu, serbuk bunga, serta bulu hewan).
·         Emosi yang berlebihan ( marah yang berlebihan, tertawa terbahak-bahak, serta kesedihan yang berlarut-larut).
·         Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) atau penyakit dimana asam lambung kembali naik ke kerongkongan sehingga mengiritasi saluran cerna bagian atas.
·         Faktor kondisi cuaca, seperti cuaca panas yang didukung kualitas udara yang buruk, perubahan suhu yang drastis, cuaca dingin, cuaca lembab, dan cuaca berangin.
·         Makanan atau minuman yang mengandung sulfit (zat alami yang kadang-kadang digunakan sebagai pengawet), misalnya makanan siap saji, bir, wine, selai, makanan olahan, udang, serta minuman kemasan sari buah.
·         Obat-obatan, misalnya obat pereda nyeri anti-inflamasi nonsteroid (naproxen, ibuprofen, serta aspirin) dan obat penghambat beta (biasanya diberikan pada pengidap hipertensi atau pengidap gangguan jantung.
Sangat penting untuk mengetahui apa yang kerap memicu munculnya gejala asma, jika anda merupakan seseorang pengidap asma. Sesudah mengetahuinya, hindari hal-hal tersebut karena itu adalah cara terbaik bagi anda untuk mencegah terjadinya serangan asma.
Gejala-gejala penyakit asma
Gejala utama asma meliputi sulit bernapas (terkadang dapat membuat pengidap megap-megap), mengi (suara yang dihasilkan saat udara mengalir melalui saluran napas yang menyempit), dada yang terasa sesak, dan batuk-batuk. Jika gejala tersebut kumat, sering kali pengidap asma menjadi sulit tidur. Tingkat keparahan gejala asma bervariasi, mulai dari yang ringan hingga parah. Memburuknya gejala biasanya terjadi saat malam hari atau dini hari. Seringkali hal ini membuat pengidap asma menjadi sulit tidur serta kebutuhan akan inhaler semakin sering. Selain itu, memburuknya gejala juga dapat dipicu oleh aktivitas fisik atau reaksi alergi. Gejala asma yang memburuk secara signifikan disebut serangan asma. Serangan asma biasanya terjadi dalam kurun waktu 6 sampai 24 jam, atau bahkan beberapa hari. Walaupun demikian, ada beberapa pengidap asma yang gejala asmanya memburuk dengan cepat kurang dari waktu tersebut. Selain mengi. Sulit bernapas, dan sesak napas yang memburuk secara signifikan, tanda-tanda yang lain serangan asma parah bisa meliputi diantaranya sebagai berikut :
·         Jari-jari serta bibir yang terlihat biru.
·         Sulit makan, tidur, atau bicara akibat sulit bernapas.
·         Merasa lelah, mengantuk, atau pusing.
·         Inhaler pereda yang tidak ampuh lagi dalam mengatasi gejala.
·         Adanya penurunan arus puncak ekspirasi.
·         Denyut jantung yang meningkat.
·         Gejala mengi, sesak di dada, serta batuk semakin parah dan sering.
Jangan abaikan apabila keluarga anda atau anda mengalami tanda-tanda serangan asma tersebut. Segera pergi ke dokter guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Faktor-faktor peningkat resiko seseorang terkena penyakit asma
Menurut riset, terdapat beberpa faktor yang bisa meningkatkan resiko seseorang untuk terkena penyakit asma, diantaranya sebagai berikut :
Ø  Mengidap penyakit bronkiolitis atau infeksi paru-paru ketika masih kecil.
Ø  Terpapar asap rokok ketika masih kecil.
Ø  Mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit asma atau alergi atopik (kondisi yang berkaitan dengan alergi, misalnya alergi makanan serta eksim).
Ø  Pada kasus ibu yang merokok ketika hamil, resiko anak untuk mengidap asma akan meningkat.
Ø  Lahir dengan berat badan dibawah normal, yaitu kurang dari 2kg.
Ø  Kelahiran prematur, terutama apabila membutuhkan ventilator.
Cara mengendalikan penyakit asma
Apabila anda kebetulan mengidap asma atau hidup dengan asma sejak lama, jangan kawatir dengan kondisi ini sebab asma adalah penyakit yang masih bisa dikendalikan asalkan anda menerapkan cara-cara dibawah ini :
§  Mengenali serangan asma dan melakukan langkah pengobatan yang tepat.
§  Memonitor kondisi saluran napas anda.
§  Mengenali serta menghindari pemicu asma.
§  Mengikuti rencana penanganan asma yang dibuat bersama dokter.
§  Menggunakan obat-obatan asma yang disarankan oleh dokter secara teratur.
Apabila penggunaan inhaler pereda asma reaksi cepat semakin meningkat, segera konsultasikan dengan dokter agar rencana penanganan asma anda disesuaikan kembali. Selain itu, disarankan untuk melakukan vaksinasi influenza serta pneumonia dengan teratur guna mencegah memburuknya penyakit asma yang dikarenakan oleh kedua penyakit tersebut.
Cara-cara mencegah penyakit asma, diantaranya :
1.      Menjaga sirkulasi udara, jamur adalah salah satu pemicu gangguan asma yang umum. Untuk mengurangi hal tersebut, jagalah sirkulasi udara dalam rumah dengan membuka jendela dan menjaga kamar mandi supaya tetap kering dan bersih.
2.      Jangan biarkan hewan peliharaan berada di tempat tidur ataupun furniture yang lain, bulu hewan peliharaan, seperti bahaya bulu anjing ataupun kucing yang terhirup adalah salah satu pemicu asma yang umum.
3.      Menjaga kebersihan tempat tidur, peralatan tidur seperti kasur serta bantal, sprei adalah salah satu tempat bersarangnya tungau penyebab asma. Oleh sebab itu, sebaiknya gunakan kasur atau bantal anti alergi dan selalu rutin untuk mencuci perlengkapan tidur seperti sprei satu minggu sekali. Cara tersebut bertujuan guna mengurangi kelembaban serta membantu mencegah jamur.
4.      Selalu memperhatikan kondisi cuaca, cuaca yang terlalu lembab, panas dan kualitas udara yang buruk bisa memperburuk gejala asma untuk sebagian orang. Oleh sebab itu, sebaiknya batasi aktivitas di luar ruangan saat kondisi ini terjadi.
5.      Hindari merokok, asap rokok adalah musuh bagi pengidap asma, sebab bahaya asap rokok yang berasal dari sulutan api bisa menjadi penyebab gangguan asma. Oleh sebab itu, hindari kebiasaan merokok ataupun menghirup asap rokok dari orang sekitar anda.
6.      Menghindari sumber yang bisa memicu alergi, pada waktu-waktu tertentu bebrapa jenis tanaman akan mengalami proses penyerbukan. Hal ini yang mana akan terjadi penebaran serbuk sari yang dipercaya sebagai salah satu alergen penyebab asma. Oleh sebab itu, sebaiknya tetap tinggal di dalam rumah selama proses penyerbukan berlangsung.
7.      Menghindari udara yang terlalu dingin, udara yang terlalu dingin diyakini dapat memicu timbulnya gangguan asma misalnya apabila sudah terjadi masuk angin. Oleh sebab itu, sebelum terjadi perubahan cuaca dingin persiapkan diri serta lingkungan supaya tetap hangat.
8.      Menghindari stress, rasa khawatir serta emosi yang intens mampu memperburuk gejala asma. Untuk menghindari stress karena masalah pekerjaan, bisa dilakukan dengan menyalurkan hobi, ataupun refreshing untuk relaksasi. Cara ini akan menenangkan pikiran seperti semula.
9.      Melakukan olahraga ringan di dalam ruangan, melakukan kegiatan fisik yang ringan sangatlah penting bagi orang-orang yang mengidap gangguan asma. Untuk menghindari resiko gangguan asma, sebaiknya melakukan kegiatan atau olahraga ringan di dalam ruangan yang hangat.
10.  Hindari produk pembersih yang mengandung bahan kimia, gas yang berasal dari pembersih rumah tangga, seperti cairan pembersih kaca yang disemprotkan mampu memicu asma. Hindari menghirup gas tersebut guna mencegah asma yang dikarenakan oleh alergi.



Sekian artikel ini saya buat apabila terdapat kekurangannya saya minta maaf.

Friday, March 9, 2018

PENYEBAB, GEJALA, DAN BEBERAPA CARA MENCEGAH KATARAK



Katarak yaitu bagian keruh pada lensa mata yang biasanya bening dan akan mengaburkan penglihatan. Katarak tidak mengakibatkan rasa sakit dan termasuk jenis penyakit yang biasa terjadi. Dan lensa mata sendiri yaitu bagian transparan di belakang pupil (titik hitam di tengah bagian mata yang gelap) yang berfungsi untuk memfokuskan cahaya pada lapisan retina. Dengan adanya katarak, kejernihan lensa mata menjadi berkurang serta cahaya yang masuk ke mata menjadi terhalang. Seiring bertambahnya umur, pada umumnya lensa mata dengan perlahan-lahan akan keruh serta berkabut. Jadi, katarak yaitu penyakit yang biasa terjadi seraya kita bertambah tua. Banyak penderita yang pada akhirnya membutuhkan operasi untuk mengganti lensa yang telah rusak dengan lensa buatan.
Penyebab katarak
Penyebab katarak yang pasti belum diketahui sampai saat ini. Seiring bertambahnya umur, protein yang membentuk lensa mata akan berubah, termasuk kandungan airnya. Hal ini yang memungkinkan lensa mata yang awalnya bening, berubah menjadi keruh. Sampai saat ini, alasan di balik proses penuaan yang bisa berujung pada perubahan protein di lensa mata belum diketahui. Walaupun demikian, di bawah ini adalah faktor-faktor lainnya yang akan meningkatkan resiko anda terkena katarak, diantaranya sebagai berikut :
·         Mengkonsumsi obat kortikosteroid berdosisi tinggi untuk waktu lama.
·         Pernah mengalami cidera pada mata.
·         Mengkonsumsi minuman keras dalam jumlah banyak secara rutin.
·         Mata yang terpajan sinar matahari untuk waktu yang lama.
·         Merokok.
·         Penyakit-penyakit tertentu, misalnya peradangan pada bagian tengah mata (uveitis) atau diabetes jangka panjang.
·         Mempunyai riwayat katarak dalam keluarga.
·         Pernah menjalani operasi mata.
·         Pola makan yang tidak sehat serta kekurangan vitamin.
Gejala-gejala katarak
Beberapa gejala katarak yang mungkin dialami, katarak pada umumnya menyerang kedua mata pengidap dengan tingkat keparahan yang mungkin berbeda-beda serta tidak bersamaan. Penyakit ini bisa berkembang selama bertahun-tahun dan tanpa terasa oleh pengidapnya. Katarak sendiri tidak mengakibatkan iritasi atau rasa sakit. Pengidap katarak biasanya akan mengalami penglihatan yang samar-samar serta berkabut. Kemudian akan muncul bercak atau bintik ketika penglihatannya kurang jelas. Kondisi ini juga bisa mempengaruhi pandangan anda dengan cara-cara seperti dibawah ini diantaranya :
§  Segala sesuatu menjadi ganda.
§  Kesulitan melihat ketika cahaya remang-remang (terutama ketika malam hari) atau ketika terang.
§  Warna yang terlihat memudar atau menjadi tidak jelas.
§  Mata yang sensitif saat terkena cahaya menyilaukan.
§  Ukuran lensa kacamata yang sering berubah.
§  Di sekeliling cahaya terang (misalnya, lampu jalan atau lampu mobil) seperti ada lingkaran cahaya.
§  segala sesuatu terlihat seperti mempunyai semburat cokelat atau kuning.
Dibawah ini adalah beberapa cara untuk mencegah katarak yang dapat anda lakukan sejak dini, diantaranya :
1.      Lindungi Mata dari Sinar UV, melindungi mata dari bahaya sinar UV memang sangat tepat dilakukan. Anda harus berusaha menggunakan kacamata ketika menyetir pada siang hari atau ketika bekerja. Bahaya sinar ultraviolet bagi mata, dapat mempercepat pembenrukan katarak. Apabila anda tidak merasa nyaman dengan kacamata maka gunakan topi yang lebar untuk menutupi mata.
2.      Konsumsi makanan tinggi vitamin C, antioksidan adalah bahan yang dapat mencegah proses stress oksidatif. Proses ini terjadi karena adanya zat radikal bebas yang masuk ke dalam  tubuh. Beberapa jenis makanan yang mengandung antioksidan terdiri dari vitamin C. Dan vitamin C sendiri dapat menghalangi proses terbentuknya katarak.
3.      Minum teh secara rutin, teh merupakan minuman super yang dapat mencegah berbagai penyakit termasuk katarak. Teh mengandung senyawa antioksidan yang sangat kuat sehingga dapat mencegah berbagai kerusakan mata yang lain dan katarak. Teh tanpa gula juga dapat membantu mengatasi kadar gula darah yang tinggi. Uji coba yang diterapkan pada tikus membuktikan bahwa minum teh setiap hari ternyata menjaga kesehatan dan lensa mata supaya selalu tetap jernih.
4.      Hindari paparan asap rokok, bahay asap rokok juga sangat berbahaya bagi mata, salah satunya dapat meningkatkan resiko terkena katarak. Asap rokok mengandung nikotin yang sangat berbahaya termasuk zat kimia yang akan merusak kebersihan mata. Mulailah tidak terpapar asap rokok sejak usia muda.
5.      makan makanan sehat, sebuah riset membuktikan bahwa individu yang mempunyai kadar gula darah tinggi atau pengidap diabetes maka resiko katarak akan lebih besar dibandingkan individu yang sehat. Oleh sebab itu kemampuan tubuh untuk mengatasi gula darah yang tinggi ternyata juga sangat mempengaruhi mata. Untuk itu biasakan mengkonsumsi makanan yang sehat penuh dengan antioksidan, vitamin E, beta karoten, vitamin A,  dan vitamin C. Batasi jumlah konsumsi makanan yang mengandung gula dan karbohidrat.
6.      Pemeriksaan mata secara teratur, terkadang beberapa kelainan atau penyakit mata akan terdeteksi apabila telah memburuk. Oleh sebab itu melakukan pemeriksaan rutin untuk kesehatan mata sangat diperlukan. Cara ini akan membantu menemukan diagnosa serta deteksi awal kelainan mata yang terjadi. Langkah ini sangat baik apabila dilakukan sejak dini dan frekuensinya akan meningkat sesudah berusia lebih dari 40 tahun.
7.      Jangan minum alkohol, kebiasaan minum alkohol juga dapat meningkatkan resiko terkena katarak. Banyak individu yang memang tidak menyadari bahwa alkohol dapat merusak mata.
8.      Konsumsi makanan tinggi vitamin E, banyak individu mengangap bahwa hanya vitamin A yang dibutuhkan oleh mata. Akan tetapi, ternyata vitamin E juga sangat dibutuhkan karena dapat menjaga proses penuaan serta kerusakan lensa mata. Cukup mendapatkan vitamin E akan membuat mata anda terlindung dari katarak. Beberapa jenis makanan yang mengandung vitamin E yaitu seperti sawi, cabai merah, biji bunga matahari, kacabg almond, mangga, alpukat, bayam, minyak zaitun serta  berbagai jenis makanan lainnya.


Sekian artikel ini saya buat jika ada kekurangannya saya minta maaf.